Bangkit Untuk Lingkungan : Cerita Kolaborasi Ruas di RW 11 Rancaekek Wetan

Hari Raya Kebangkitan Nasional yang diperingati setiap tanggal 20 Mei adalah hari lahirnya organisasi sosial pertama di Indonesia, Budi Utomo. Tanggal kelahiran Budi Utomo dianggap sebagai mulainya kebangkitan nasional karena menggunakan strategi perjuangan yang baru dan berbeda dengan perjuangan sebelumnya (Ratnasari, 2014). Mengapa berbeda?

 

Perjuangan masyarakat Indonesia untuk Kemerdekaan sebelumnya masih sporadis dan tidak serentak, terhambat oleh kurangnya kepemimpinan, masih berbasis kekerasan senjata dengan para pejuang yang masih diadu domba oleh penjajah. Kebangkitan nasional, setelah 1908, diperingati karena membuka wacana akan strategi perjuangan yang berbeda yaitu berbasis kerjasama dan kolaborasi (yang saat itu dalam bentuk organisasi), berbasis intelektual dan lebih memiliki rasa kesatuan. Pendidikan memiliki peranan penting dalam kebangkitan nasional, karena tanpa adanya pendidikan tidak akan ada kaum intelektual yang memulai gerakan dan strategi perjuangan baru yang mengguncang status quo.

 

Dalam semangat kebangkitan nasional ini kami mengingat kembali saat kami mendapat kesempatan untuk menjadi bagian dan saksi dari ‘bangkitnya’ semangat warga RW 11 Rancaekek Wetan untuk memperbaiki lingkungannya. RW 11 Rancaekek Wetan yang berada di ambang perkotaan, desa dan industri ini, saat ini tengah memiliki kegelisahan akan mulai menurunnya kualitas lingkungan mereka baik secara fisik, sosial maupun ekonomi. Kesempatan yang mempertemukan kami relawan dari Yayasan Tunas Nusa; mahasiswa arsitektur dan SITH ITB dan warga RW 11 Rancaekek Wetan membuahkan berbagai kegiatan yang kemudian berujung pada upaya kolaborasi ruas.

 Gambar 1 Kegiatan Kolaborasi Ruas

 

Kegiatan Kolaborasi Ruas yang dilaksanakan pada Minggu 6 Mei 2018 ini adalah rencana aksi transformasi pada ruas Jalan Walini dengan target masyarakat RW 11 Rancaekek Wetan yang dikerjakan bersama – sama dengan relawan dari Tunas Nusa serta mahasiswa dari Jurusan Arsitektur dan Fakultas SITH ITB. Kegiatan ini diharapkan dapat mengajak masyarakat untuk turut serta menjaga dan merawat lingkungan di sekitarnya. Adapun output dari rencana aksi ini adalah 16 titik tanam pada ruas Jalan Walini.

 

Kegiatan diawali dengan briefing singkat terkait teknis penanaman, lokasi titik tanam dan tujuan kegiatan oleh Ibu Ramalis dari Yayasan Tunas Nusa kepada para peserta. Selanjutnya dilakukan pembagian kelompok menjadi 9 kelompok yang terdiri dari remaja, ibu-ibu, bapak-bapak dan mahasiswa. Setiap kelompok bertanggung jawab terhadap 1-2 titik tanam yang sudah ditentukan sebelumnya. Mereka juga dibekali oleh peralatan tanam seperti; bibit tanaman, pagar bamboo, trash bag, sekop, cangkul dan umbul – umbul. Mobil dan gerobak juga dipersiapkan apabila sewaktu – waktu digunakan untuk mendistribusikan tanah, batu maupun bambu kepada setiap kelompok.

 

Kegiatan penanaman ini berlangsung selama 2-3 jam, dimana baik masyarakat RW 11 Rancaekek Wetan, mahasiswa SAPPK ITB dan fasilitator Yayasan Tunas Nusa saling bekerja sama dalam melakukan penanaman. Beberapa masyarakat terutama ibu-ibu dan remaja terlihat antusias berpartipasi dalam kegiatan ini. Rencana aksi ini diakhiri dengan istirahat dan makan bersama antar seluruh peserta. Tidak lupa juga dilakukan pemberian hadiah untuk remaja dalam perlombaan foto dan ibu – ibu dalam perlombaan masak yang telah dilaksanakan beberapa hari sebelumnya.

Gambar 2 Hasil Kolaborasi Ruas

 

Jika mengingat kembali semangat kebangkitan nasional adalah untuk bangkit, berjuang dengan strategi baru; maka dalam konteks RW 11 Rancaekek Wetan, kami mencoba bersama dengan kolaborator dan warga untuk berjuang memperbaiki lingkungan dengan strategi baru. Tidak hanya bergantung pada bantuan atau program, kami mencoba bersama – sama mengerjakan yang bisa kami kerjakan. Melalui upaya ini kami mencoba mengedukasi warga dan pengguna jalan secara informal. Kami berharap berjuangan dalam kolaborasi ruang kemarin dapat mengajarkan pada pengguna jalan dan warga lainnya bahwa tepian jalan bukan tempat untuk membuang sampah; bahwa dengan sedikit upaya dan sedikit modal dapat diciptakan ruang yang dapat menjadi wajah yang indah bagi penghuninya; dan bahwa upaya ini adalah langkah pertama dari sekian banyak langkah yang harus dijalankan bersama – sama.

Gambar 3 Relawan Tunas Nusa, Bersama Mahasiswa Arsitektur, mahasiswa SITH dan warga

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *