CoLiving : Refleksi Kwartal Pertama

Selamat pagi! Tak terasa sekarang kita sudah sampai di akhir kwartal pertama di tahun 2017. Err…

 

Talk about resolution! Semoga semua dalam keadaan sehat dan bahagia yaa..


Awal tahun ini, Yayasan Tunas Nusa memiliki proyek bernama CoLiving. Kalian dapat membaca lebih jauh tentang proyek ini di link ini. Tepatnya pada tanggal 2 Januari 2017, kami memulai proyek CoLiving dengan membangun infrastruktur selokan. Hampir 3 bulan masa sudah berlalu dan pembangunan terus berlanjut. Terdapat beberapa perubahan besar yang terjadi di proyek ini, antara lain :

1. Unit 1 awalnya direncanakan memiliki basement untuk penampungan air hujan tapi saat pembangunan, kami menemukan kesulitan di medan yang dihadapi* sehingga diputuskan unit 1 tidak akan memiliki basement.

2. Kami sangat kesulitan dalam mencari SDM yang terampil dan cocok harganya sehingga terjadi proses pembangunan menjadi tersendat

3. Lahan CoLiving ternyata merupakan lahan tidak stabil yang basah dan terdapat genangan. Kami harus merubah bentuk pondasi telapak kami menjadi pondasi yang lebih luas.

4. Proses pekerjaan sipil kami sangat diburu waktu, terutama pada Bulan Januari dengan kedatangan mitra kami dari Belanda, Nadia, sehingga pembangunannya menjadi kurang matang.

5. Sumur awalnya direncanakan dengan menggunakan pipa beton tanpa tulangan yang dijual di pasaran sedalam 5 meter. Saat kami menumpuk pipa tersebut, ternyata baru 6 tumpuk pipa tersebut pecah sehingga kami harus membuat penguatan beton dan pada akhirnya menghasilkan sumur sedalam 4 meter.

Saluran air hujan yang terdapat di lahan CoLiving ternyata tidak terhubung dengan saluran riool kota sehingga harus diperbaiki. Masalah yang kami hadapi, ternyata ketinggian lahan kami berada di bawah ketinggian riool kota. Kami memiliki beberapa alternatif untuk memecahkan masalah ini :

1. membangun basement dengan basement

2. mengalirkan air ke kavling sebelah dan menjadikannya wetland garden

3. meninggikan permukaan lantai

4. meniadakan basement, artinya lahan akan menghadapi masalah susah air

 

Kami juga melakukan percobaan penanaman ikan. Kami menaruh kohe di dasar gentong untuk difermentasi selama 12 hari untuk menjadi makanan ikan. Pada suatu pagi yang indah, kami menemukan semua ikan di dalam gentong tersebut mati. Sepertinya kami mendapat pelajaran mahal soal cara peningkatan kadar oksigen air dan pentingnya penggunaan filter.

Awalnya, kami memiliki target menyelesaikan unit 1 pada Bulan Maret ini. Well, reality hits us. Ternyata 1 unit tidak dapat jadi dalam 3 bulan.

Bila diulas singkat dapat ditulis seperti ini

Januari : Pencarian SDM, koordinasi teknis kontruksi, workshop, workshop expert

Februari : Euforia mitra, kunjungan, mulai kerja praktik dari SMK, uji coba rooftop yang gagal karena tanah yang basah

Maret : pembuatan logo, kenyataan tentang uang dan waktu yang tidak memadai sehingga kami harus melakukan penyesuaian ulang.

Tapi setidaknya, dalam 3 bulan tersebut, kami sudah berhasil membangun struktur (pondasi, kolom, cor lantai atap) unit 1 dan gerbang tumbuhan labu. Kami akan melanjutkan tahun 2017 dengan pemasangan rangka mezanin besi, percobaan material dinding unit 1 dan pembuatan lahan pertanian di tanah asli(dimulai minggu ini). Rencananya hasil pertanian di lahan asli tersebut akan kami bandingkan, dari tanah asli yang tidak diapa-apakan dan dari tanah yang sudah diolah. Unit 2 sampai 5 akan dibangun pada tahun 2018.

 

Untuk menghadapi realita tersebut, kami melakukan penghentian konstruksi agar tukang besi dapat bekerja dengan efisien dan dengan harapan dapat meningkatkan kualitas pembangunan.

Pelajaran yang kami dapat dari 3 bulan ini adalah

1. Antara rencana dan realita seringkali tidak sejalan

2. Keputusan kecil dapat membuat perubahan besar, masih menjadi pertanyaan apakah itu merupakan keputusan terbaik atau tidak.

3. Perlu dokumentasi yang rapi dalam konstruksi. Kami mengalami harga material yang berubah-ubah tapi kami juga belajar bahwa kepercayaan dari supplier itu penting dalam prosesnya.

4. Efisiensi pekerja sangat penting, kesesuaian antara jumlah pekerja, keterampilan yang diperlukan, dan materia yang tersedia.

5. Keadaan lahan dapat menyebabkan perubahan yang ekstrim. Kami mengalami pemindahan lokasi sumur dan perubahan septic tank karena keputusan awal menggabungkan dengan biodigester ternyata kurang efisien dan menimbulkan ketidaknyamanan penghuni. 

Sekian dulu tulisan yang terlalu panjang soal pelajaran 3 bulan ke belakang. Tetap belajar, selalu optimis, dan tanggap menghadapi kesempatan menjadi tenaga kami. Semoga berguna! Happy weekend!

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *