Kolaborasi Interdisiplin : KLHK & ATR

Selamat Pagi, kali ini saya akan mengulas sedikit tentang perjalanan Yayasan Tunas Nusa membangun kolaborasi terbaru di minggu ketiga Bulan Maret ini. Hari Selasa, tim kami pergi ke Jakarta untuk melakukan presentasi kepada dua pihak. Pertama adalah dengan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (KLHK). Yang kedua adalah dengan Kementrian Agraria dan Tata Ruang (ATR).

 

Yayasan Tunas Nusa diundang untuk ikut serta dalam Festival Iklim 2017 yang akan dilaksanakan oleh KLHK pada bulan Agustus karena kami sudah pernah bekerja sama sebelumnya di Festival Iklim sebelumnya di bulan Februari 2016. Tim menyampaikan mengenai uji coba Yayasan Tunas Nusa yang dilakukan di Bandung serta temuan dan mengusulkan untuk mencoba melakukan uji coba yang sama di daerah lain.

Tujuan Yayasan Tunas Nusa melakukan kolaborasi dengan KLHK adalah untuk menyampaikan kemajuan riset ke publik, mendapat dukungan untuk aksi selanjutnya dari KLHK, dan mendapatkan umpan balik perihal metode dan rumusan kesimpulan kami dari mitra. Tentu saja pihak KLHK juga memiliki tujuan dari kolaborasi ini, yaitu meningkatkan resiliensi terhadap perubahan iklim melalui kerjasama dengan mitra. Setelah pertemuan ini, kami akan menyusun proposal penerapan gagasan yang akan dikemas dalam seminar, talkshow, dan workshop.

Setelah itu, Tim kami melanjutkan presentasi dengan ATR. Kebetulan ATR dibantu oleh Asian Development Bank sedang merancang program untuk implementasi tata ruang untuk menjawab perubahan iklim. Dengan CoLiving Tunas Nusa, kami dapat membantu dalam melaksanakan tata ruang sesuai dengan persolan dan karakterisktik yang dihadapi dan pengembangan konsep yang menjawab isu-isu spesifik. Objek diskusi mengerucut ke Medan dan Manado sebagai contoh yang memiliki pengaruh di cakupan global. Mungkin banyak yang belum tahu bahwa Medan adalah kota Metropolitan yang merupakan bagian penting di Semenanjung Malaka. Dan Menado, adalah kota yang terletak di 3 lempeng benua. Kami akan menyusun proposal untuk rencana 2-3 tahun sebagai fasilitator dan melakukan pendampingan daerah untuk penyusunan blueprint implementasi tata ruang untuk peningkatan resiliensi terhadap perubahan iklim.

Dari kedua pengalaman presentasi di atas, kami dapat menyimpulkan bahwa perubahan iklim adalah salah satu isu besar yang harus dihadapi secara interdisciplinary yang merupakan metode yang sejak awal dilakukan oleh Yayasan Tunas Nusa. Kami juga mendapat insight  bahwa networking  itu penting untuk meningkatkan kesempatan, wawasan, dan kekuatan gerakan.

“Alone we can do so little; together we can do so much” 
― Helen Keller

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *