Perjalanan Tahunan Yayasan Tunas Nusa

Day 1-16 Desember 2017

Hari ini, Yayasan Tunas Nusa mengadakan perjalanan tahunan lagi. Tahun lalu, kami mendapat kesempatan berkunjung ke banyak tempat di Pulau Bali. Tahun ini, kami berkunjung ke Jakarta. Sangat dekat tapi juga sangat berbeda dengan Bandung dan Bali. Kami berkunjung ke Jakarta untuk mendapat sudut pandang mengenai arah perkembangan  kota besar. Kami berkumpul di Stasiun Bandung bagian utara. Setelah mencetak boarding pass, kami segera masuk ke kereta. Kereta Ekonomi Premium yang cukup nyaman untuk ditempati selama kurang lebih 3 jam 15 menit perjalanan menuju ke Jakarta.

Berjalan dengan ditemani pemandangan dan sarapan dari resto kereta, kami turun di stasiun Jatinegara. Setelah itu, dengan menggunakan kartu E-Money, kami melanjutkan perjalanan ke stasiun Manggarai dengan KRL. Karena jam kantor sudah lewat, KRL yang kami tumpangi tidak terlalu padat. Kami masih bisa duduk dan melihat kondisi di luar. Sangat Urban. Setelah beberapa menit, kami sampai di stasiun Manggarai. Rencana awal untuk pertemuan di coffee shop akhirnya bergeser ke tempat fast food. Pagi masih cukup sejuk. Kami lanjutkan dengan diskusi bersama komunitas Sidalang dan Socolas yang diwakili oleh Gita, Kestri, Dita, dan Novita. Sidalang memiliki kepanjangan Kreasi Daur Ulang. Sementara Socolas sendiri adalah Social Corporate Lawyer Society. Kami bertukar informasi mengenai kegiatan yang sedang dilakukan dan rencana untuk tahun 2018. Diskusi ini berlangsung hidup dan menarik karena semua yang hadir memiliki niat yang sama yaitu untuk menciptakan lingkungan yang lebih baik. Ide untuk kolaborasi dengan partner masing-masing komunitas, uji konsep kegiatan, berbagi strategi dalam berkegiatan menjadi topik hangat di diskusi ini.

Pertemuan kami harus berakhir karena kami mengejar jadwal untuk kunjungan ke Kota Tua. Setelah mengabadikan momen, kami segera menuju kereta. Terpotong sebentar oleh drama rumah tangga ibu kota, kami naik kereta menuju Kota Tua. Sampai di sana, kereta cukup padat, sambil mempersiapkan diri, kami bisa menikmati arsitektur stasiun Kota Tua yang sesuai dengan daerah tropis. Langit-langit yang tinggi membuat ruangan menjadi sejuk. Keluar dari stasiun, kami jadwalkan bertemu dengan kendaraan kami untuk 2 hari. Sambil menunggu, kami membeli mangga potong dan memperhatikan pelaku ekonomi kreatif. (Tukang gorengan yang mampu memotong tempe sangat tipis dan menggunakan penutup kipas angin sebagai saringan minyak). Kami pun menuju ke Kedai Seni. Disana kami makan siang sambil menikmati bangunan colonial yang masih berdiri kokoh dan indah. Setelah makan, kami berjalan kea rah Museum Bank Indonesia. Dengan tiket seharga Rp5.000,-, kita bisa mengetahui sejarah uang di Indonesia dan juga mengalami arsitektur bank yang sudah ada sejak jaman penjajahan tersebut. Bangunan tersebut sudah dipugar dan dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang menampilkan sejarah uang dengan menarik.  Setelah itu, kami menunggu kendaraan kami untuk melanjutkan perjalanan ke Pantai Indah Kapuk. Perjalanan yang cukup panjang membuat kami tertidur, ibukota memang kota yang sibuk.

Sampai di Pantai Indah Kapuk, kami menuju ke Kawasan Mangrove dekat Tzu Chi. Setelah membayar tiket, kami masuk dan berjalan-jalan di dalamnya. Kawasan ini memiliki resort yang sepertinya belum aktif. Sebelum menuju ke apartemen, kami melewati jembatan dan melihat pulau reklamasi. Cukup mengagetkan saat melihat luasan yang besar dan infrastrukturnya banyak yang sudah jadi. Namun, absennya keramaian membuat kawasan tersebut seperti kota mati.

Kami pun menuju ke Ruang Terbuka Publik Ramah Anak Kalijodo. Daerah yang sebelumnya lokalisasi itu sudah berubah menjadi ruang yang penuh aktivitas positif. Dengan desain yang menarik, kami tercengang melihat struktur atap yang besar, animo masyarakat, dan hidupnya area tersebut. Kami pun sholat disana. Setelah itu, melewati area skateboard dan berjalan menyusuri area yang diisi oleh penjual. Banyak aktivitas komersil yang terjadi disana. Dan ternyata, lokalisasi masih ada walaupun tersembunyi. Setelah itu, kami pun menuju ke apartemen untuk beristirahat. Sayangnya, begitu sampai di apartemen, airnya belum menyala. Akhirnya dengan muka kumal, kami makan dahulu di restoran seafood. Setelah makan, akhirnya kami bisa membersihkan diri dan beristirahat.

Bonus : Beberapa anggota bangun untuk menunggu kedatangan anggota tim. Dina datang dan membawa masker. Kemudian Adit datang dan memberikan surprise untuk Davin yang ulang tahun. Malam itu berlanjut diskusi rencana 2018 tapi kurang kondusif karena menjalani Jakarta sebagai wisatawan pun ternyata menguras tenaga.

Day 2-17 Desember 2017

Pagi hari, kami bersiap untuk merasakan car free day Jakarta. Niat untuk berangkat pukul 5 pagi akhirnya kandas. Sekitar pukul 6.30 kami berangkat dan sarapan di Restoran padang di Bendungan hilir. Resto kecil ini ramai sejak pagi. Kami sarapan lontong padang dan bubur kampiun. Rasanya sangat enak dengan harga yang terjangkau, tak heran dia ramai. Setelah makan, kami berjalan di pasar yang terletak di bangunan sebelahnya. Kios-kios sepi, mungkin karena sudah siang dan hujan. Dari bangunan pasar, kami bisa melihat pembangunan besar di sebelahnya dan melihat kepadatan penduduk di sekitarnya. Masyarakat berebut untuk mendapat bagian di kota yang keras ini. Setelah itu, kami melihat car free day. Sangat berbeda dengan Bandung. Kebanyakan orang berolahraga dan areanya sangat besar. Beberapa membawa hewan peliharaannya berjalan

Setelah berjalan sedikit, kami kembali ke mobil untuk menuju ke RTPRA di Jatinegara untuk bertemu dengan Mas Kamil. Kami mengikuti GPS menuju tempat yang salah, sebelum akhirnya kami menemukan RTPRA Jaka Teratai. Melewati sungai dan kandang ayam, kami sampai di RTPRA yang nyaman. Kami berbagi info mengenai kegiatan yang dilakukan. Mas Kamil sendiri merupakan bagian dari tim desain RTPRA ini yang melibatkan masyarakat dari awal. Proyek yang dibiayai CSR Perusahaan ini menemukan kendala karena pergantian Gubernur yang memiliki program berbeda. Namun, karena sudah melibatkan masyarakat dan banyak stakeholder, sudah ada rasa kepemilikan bersama. Kami memberi ide untuk program penanaman bersama untuk aktivitas yang dapat mengisi ruang di RTPRA tersebut.

Kami kembali ke apartemen untuk makan siang di restoran teppanyaki dan kemudian membersihkan diri. Setelah siap, kami menuju ke stasiun Cikini untuk menurunkan beberapa anggota yang menuju ke Bogor dan melanjutkan perjalanan ke stasiun Gambir. Setelah membeli bakmi untuk makan malam, kami menuju ke peron dan menunggu kereta. Perjalanan ke Bandung ditemani dengan bakmi dan AC yang sangat dingin. Perjalanan urban singkat ini menjadi pengalaman yang menarik untuk menyegarkan pikiran kami untuk bersiap menjelang akhir tahun.

Selamat tahun baru semuanya, semoga kita bisa berkolaborasi lagi di tahun 2018 dan bersama-sama menuju kehidupan yang lebih baik. Salam hangat!

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *